Ruteng, Kelimutu dan Maumere
Ruteng
Sebenarnya Ruteng itu hanya menjadi tempat persinggahan sementara, karena menurut info dari teman yang sudah lebih dulu kesana
kalau mau ke kelimutu harus lewat ruteng. Nah.. berhubung travel yang menuju kelimutu itu berangkat pagi hari dari ruteng jadi kami menyusun itinerary menginap semalam di ruteng supaya bisa mengejar travel gunung mas tujuan Ende itu rencana awalnya, tapi kenyataannya berbeda.
Setelah turun dari desa Waerebo disebuah pertigaan, kira-kira jam 3 sore angkutan umum yang kami tunggu pun lewat, lalu tawar menawar harga setelah sepakat dengan harga 20rb/org, kami pun naik ke dalam mobil tiga perempat seperti angkot pada umumnya yang saat itu penumpangnya hanya kami bertiga, tapi tidak lama banyak juga penumpang yang naik. Jarak tempuh ke Ruteng kurang lebih 1 jam.
kalau mau ke kelimutu harus lewat ruteng. Nah.. berhubung travel yang menuju kelimutu itu berangkat pagi hari dari ruteng jadi kami menyusun itinerary menginap semalam di ruteng supaya bisa mengejar travel gunung mas tujuan Ende itu rencana awalnya, tapi kenyataannya berbeda.
Setelah turun dari desa Waerebo disebuah pertigaan, kira-kira jam 3 sore angkutan umum yang kami tunggu pun lewat, lalu tawar menawar harga setelah sepakat dengan harga 20rb/org, kami pun naik ke dalam mobil tiga perempat seperti angkot pada umumnya yang saat itu penumpangnya hanya kami bertiga, tapi tidak lama banyak juga penumpang yang naik. Jarak tempuh ke Ruteng kurang lebih 1 jam.
Memang kami sengaja tidak memesan penginapan sebelumnya karena niatnya go show aja. Saat salah seorang teman saya sibuk mencari penginapan melalui handphone nya
dan bertanya kepada penumpang yang ada di angkot mengenai
lokasi hotel tsb, maka si penumpang itu berkata “angkot ini juga nanti
lewat jalan itu”, lalu kami tenang. Tidak lama kemudian salah
seorang penumpang wanita yang membawa anak kecil yang wajahnya menurut saya cantik, menawarkan untuk menginap
dirumahnya. Awalnya kami menolak karena takut merepotkan, tapi dia
setengah memaksa, lalu kami sambut dengan senyum merekah di bibir
berkata “baiklah”. Sungguh pengalaman pertama untuk kami bermalam di rumah orang yang sama sekali tidak kami kenal. Saat sampai di rumahnya kami disambut dengan ramah dan kekeluargaan lalu berbagi cerita. Ini dia yang seperti slogan iklan aqua "dimana pun kita berada seperti di rumah sendiri" hehe...
Sungguh keluarga yang luar biasa, dengan kesederhanaannya mereka masih mau menerima kami bermalam dirumahnya. Kami menjadi bagian keluarga kakak Nesa malam itu, makan malam bersama dan
bercerita. Udara malam di Ruteng amatlah dingin jadi mama
meminjamkan kami kain, mereka menyebutnya kain panas, saat kami menggunakan kain tersebut, kami terkesan dan berniat membelinya sebagai
kenang-kenangan dan mama pun berkata, ok besok kita bawakan beberapa kain
dan silahkan pilih mana yang kalian suka, harga kainnya (Rp.250rb).
Keesokan
harinya, ketika kain-kain sudah ada dirumah dan saya telah memilih
kain yang saya suka lalu saya pergunakan moment itu untuk berfoto bersama menggunakan kain Ruteng. Seandainya kami memilih untuk
menginap dipenginapan mungkin tidak akan ada cerita seperti
ini.
Tanpa sadar jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, saya pun tiba-tiba kaget karena
seharusnya jadwal saya pagi itu ke agen travel gunung mas untuk
membeli tiket menuju Ende dan seorang kakak mengantarkan saya menuju
agen travel dengan menggunakan sepeda motor, sesampainya di
agen penjualan tiket, mereka pun berkata kalau mobil tujuan Ende sudah
berangkat sejak pukul 7 tadi, otomatis saya panik lalu kakak berkata tidak
usah panik sebab biasanya banyak travel-travel lain yang tidak ada nama tujuan Ende, dan
benar saja tidak jauh dari tempat itu saya dan kakak menemukan travel
yang sedang mencari penumpang tambahan dipinggir jalan. Setelah melakukan tawar-menawar harga dan sepakat (Rp.220/org),
saya pun minta dijemput di rumah kak nesya sebab saat itu saya belum
berkemas.
Dengan tergesa-gesa saya berkemas dan mama telah menyiapkan sarapan untuk kami bertiga, keluarga kak nesya begitu baik pada kami, saya tidak akan melupan pertemuan ini. Travel pun tiba di depan rumah kami bertiga mohon pamit dan mohon doa agar selamat di tempat tujuan selanjutnya. Selamat tinggal keluarga baru ku senang bertemu kalian.
Dengan tergesa-gesa saya berkemas dan mama telah menyiapkan sarapan untuk kami bertiga, keluarga kak nesya begitu baik pada kami, saya tidak akan melupan pertemuan ini. Travel pun tiba di depan rumah kami bertiga mohon pamit dan mohon doa agar selamat di tempat tujuan selanjutnya. Selamat tinggal keluarga baru ku senang bertemu kalian.
Kelimutu
Tepat
pukul 9 pagi travel menuju Ende berangkat, didalam mobil sudah berisi penumpang 1
keluarga ibarat kata kami seperti menumpang mobil mereka, tujuan
mereka Maumere sedangkan kami hanya sampai Moni desa terdekat untuk
menuju kelimutu. Sampai di moni pukul setengah 7 malam, kami
diturunkan tepat di depan penginapan Saoria (085210930741) yang letaknya di pinggir
jalan raya dengan harga kamar (Rp.150rb) bisa untuk 3 orang ,
bentuknya seperti bungalow, tapi sayang penginapan ini seperti tidak
terawat. Saat bertemu penjaga penginapan saya pun minta dicarikan ojek untuk besok
paginya. Penginapan beres, ojekpun beres juga, tapi urusan perut yang
belum beres malam itu. Tapi kami tidak khawatir sebab disamping
penginapan saoria ada restoran dengan menu nasi goreng
(Rp.25rb/porsi).
Alarm berbunyi pukul 03.50 pagi, kami bersiap-siap dan
ojek pun standby tepat pukul 4 subuh, ditemani udara dingin desa moni
kami meluncur menuju kelimutu, sampai di pintu gerbang taman nasional
kelimutu saya membeli tiket 5rb/org dan karcis parkir 10rb. Kami
memulai trekking menaiki tangga demi tangga karena masih jam 5 pagi
dan keadaan masih gelap jadi perjalanan harus menggunakan senter.
Kelimutu sangat dingin dan berkabut kurang lebih 20 menit akhirnya sampai juga, tapi suasana masih gelap jadi belum terlihat, tidak lama cahaya orange pun muncul dari balik awan, sedikit demi sedikit mulai terlihat dan saya pun takjub sebab persis di depan kami duduk menanti sunrise, disitu pulalah danau dua warna itu bertengger, dan semua orang sibuk mengabadikan si hijau dan si toska yang terlihat mengintip. Dimana letak danau yang satunya lagi? pertanyaan saya selanjutnya. Ternyata letaknya terpisah, ada diseberang tosca dan hijau, dia berwarna hijau tua sungguh luar biasa danau kelimutu, cantik banget kayak model jadi objek foto wisatawan. Tapi sayang seribu sayang pagi itu matahari tertutup awan jadi tidak bisa menikmati pancaran sinarnya yang jatuh ke danau kelimutu, hanya kabut yang datang dan sesaat pergi yang saya nikmati.
Kelimutu sangat dingin dan berkabut kurang lebih 20 menit akhirnya sampai juga, tapi suasana masih gelap jadi belum terlihat, tidak lama cahaya orange pun muncul dari balik awan, sedikit demi sedikit mulai terlihat dan saya pun takjub sebab persis di depan kami duduk menanti sunrise, disitu pulalah danau dua warna itu bertengger, dan semua orang sibuk mengabadikan si hijau dan si toska yang terlihat mengintip. Dimana letak danau yang satunya lagi? pertanyaan saya selanjutnya. Ternyata letaknya terpisah, ada diseberang tosca dan hijau, dia berwarna hijau tua sungguh luar biasa danau kelimutu, cantik banget kayak model jadi objek foto wisatawan. Tapi sayang seribu sayang pagi itu matahari tertutup awan jadi tidak bisa menikmati pancaran sinarnya yang jatuh ke danau kelimutu, hanya kabut yang datang dan sesaat pergi yang saya nikmati.
Cek
out dari penginapan Saoria sekitar jam setengah 12 siang. "Kata
mereka travel menuju Maumere akan lewat jalan raya ini" tepat
didepan saoria, kami menunggu dan menunggu hampir 1 jam travel
tak kunjung lewat, maka terbesit niat untuk menyetop mobil bak
terbuka, kami mencoba niat itu, sudah 3 mobil yang kami stop tapi
keberuntungan belum berpihak pada kami. Akhirnya travel yang dinanti pun tiba, dengan harga (Rp.50rb/org), dan si pak supir mengatakan
kalau ada buka tutup jalan karena pekerjaan penambangan batu.
Perjalanan dari Moni ke Maumere ±
3 jam sempat berfikir gimana ceritanya kalau tadi jadi naik mobil bak
terbuka di siang bolong??
Maumere
Maumere
adalah akhir dari perjalanan saya di flores, tiba di Maumere sekitar
pukul setengah 6 sore. Kami memilih menginap di lareska
(081331627215), kurang saya rekomendasi
karena kamar mandi di luar dan kamarnya tidak terlalu nyaman dan sebenarnya
diseberang Lareska juga ada penginapan yang lebih nyaman yaitu
Kaboor, tapi karena saat itu kami mau melepas semua
kenyaman-kenyaman itu jadi tidak masalah (maklum backpacker yang penting murah, bayangkan harga 70rb/kamar untuk 3org).
Kejadian menarik saat menginap di Lareska, singkat cerita, penginapan ini letaknya dekat dengan pelabuhan dan lebih diperuntukkan untuk penumpang kapal karena jadwal kapal laut yang hanya satu minggu sekali atau satu minggu dua kali. Malam itu kami sedang bersantai ngobrol dengan pemilik penginapan, tidak lama ada beberapa orang datang yang mengaku dari kepolisian, lalu saya bertanya, ini ada apa ya?, mereka jawab " kami sedang melalukan pemeriksaan!", saya pun bertanya lagi " pemeriksaan apa?" mereka menjawab "pemeriksaan rutin yaitu pemeriksaan narkoba!", saat itu kami bertiga bersikap kooperatif, karena memang kami tidak ada masalah, jadi tidak perlu khawatir, lalu mereka meminta KTP untuk di cek dan meminta izin untuk memeriksa barang bawaan, dan terbukti tidak ada apa-apa. Inilah pengalaman dan cerita saya karena selama ngetrip belum pernah ransel di bongkar-bongkar polisi.
Info tempat makan letaknya dekat banget sama penginapan, tinggal nyebrang sudah ketemu sama banyak gerobak-gerobak tukang jualan, tapi ramainya kalau malam aja, ada tukang sate
kambing/ayam, nasi goreng, soto dll, seperti di jakarta deh pokoknya.
Lagi-lagi
saya mengandalkan motor untuk berkeliling, karena sulit menemukan
penyewaan motor jadi saya menyewa motor penjaga penginapan dengan biaya (Rp.80rb).
Saat mau sewa motor seorang pemuda yang juga menginap di Laresa mau ikut join berkeliling maumere, kami pun langsung menyambutnya. Jo hanya setengah hari bersama kami karena dia akan melanjutkan perjalanan ke kampung halamannya di Larantuka.
Di Maumere saya mengunjungi bukit cantik
dengan view laut yaitu tanjung Kajuwulu yang diatasnya terdapat salib,
lalu ke pantai Dian desa yang sebenarnya adalah yayasan tempat doa
umat katolik tapi saat saya kesana tempat itu sangat sepi sekali jadi agak-agak gimana gitu?.
Sebenarnya saya ingin sekali ke bukit Nilo yang ada patung Bunda
Marianya, karena Jo sudah lebih dulu ke bukit Nilo maka dia berkata kalau tanjakan menuju bukit Nilo telalu curam jadi dikhawatirkan kalau yang mengendarai motor perempuan semua untuk itu saya mengurungkan niat ke bukit Nilo dari pada tidak bisa pulang ke jakarta
dan siang itu Jo harus berpisah dengan kami dia akan melanjutkan ke Larantuka menggunakan bis.
dan siang itu Jo harus berpisah dengan kami dia akan melanjutkan ke Larantuka menggunakan bis.
Dari
Maumere menuju Denpasar menggunakan Wings air denga tiket (Rp.993rb),
enaknya naik pesawat ke daerah timur selalu sepi penumpang jadi bisa
pindah-pindah kursi, karena terbangnya tidak terlalu tinggi jadi bisa mengabadikan pemandangan dari atas.
Tiba
di bali pukul 12 siang, kembali ke area popies land dan mencari
penginapan (150rb) sebenarnya tidak menginap tapi cuma untuk meletakkan ransel dan beristirahat sebentar
sebab penerbangan ke jakarta pukul 10 malam jadilah kami memilih
pesan kamar setengah hari, dan menyewa motor (50rb/motor karena cuma
setengah hari jd nawar harga normalnya 70rb) untuk mencari makan
siang. Karena siang itu masih ada waktu saya pun memilih untuk mengakhiri perjalanan ini di cafe la plancha di seminyak, disini lah kas negara sedikit terkuras, tapi tidak masalah karena ini merupakan hari terakhir. Sekitar jam setengah 6 kami kembali ke penginapan dan bersiap-siap
menuju Jakarta. Ok selesai juga cerita perjalanan saya di Flores
semoga infonya bermanfaat ya, nikmati perjalananmu dan bagikan
ceritamu karena setiap waktu no. contact dan harga pasti berbeda. Alangkah indahnya berbagi pengalaman cerita. See u...
![]() |
| cuma menu ini aja harganya Rp. 276rb |
| cafe ini bukanya jam 4 sore, yang duduk harus order |










Komentar
Posting Komentar